Monday, September 23, 2013

Senja




Lelap sekali ia dari tidur lelahnya,,,
Wajah pucat nan polos, menyiratkan akan kemuarnian seorang puan tanpa alas kecantikan apa – pun. Kulit manis langsat memancarkan pesona tersendiri tanpa sebuah pengakuan pun juga penegasan. Bak bayi dalam nina bobonya, tenang ia tanpa rengek seperti tadi, di saat penjemputan dari stasiun pemberhentian.
Senja…
Itu sebut nama perempuan pulas di sisiku kini. Bertikar karpet utuh dengan gaun muslimnya, bergelora kini ia melaju mimpi.
Karena seringai,,,, bias ku amati menghias dari mimic wajah lembutnya.
Ingin sekali benakku menjemputnya!!!...
Bahkan amat sangat teramat ingin, membelai rambut berbalut kerudung itu, mengecup kening serta membisikan ia kata manis dari pujangga akan sebuah kerinduan,,,
Rindu yang amat mendalam dari keterbatasan jarak pandang,,,
Tapi tidak kulakukan senja,,,
aku berjanji  menjaga mu dalam utuh. Karena kaulah lambang  kesucian dari berbagai yang suci, meski ruang ini hanya kita berdua…
***
“sudah lama nuggu senja?!”
“tidak juga ndra,,, seperti saya  kabarkan satu  jam yang lallu via mesage. Bahwa saya  sudah sampai pada stasiun ini”
“adudududu,,, maaf  senja. Kamu harus nunggu lama sampai satu jam.  Ini si pitung udah bikin aku telat jemput kamu!!...”
“si pitung?!”
“oh,,, iya. Hehehe,, kenalin. Pitung  nama motor bututku ini.”
“kau ini ndra,,, ada-ada aja, segala motor di kasih nama”
“eee,,, bukan sembaarang motor loh senja,,, !!!...”
“iya deh,,,  udah ah bahas motornya,,, kapan kau mau ngajak saya pergi?”
“o iya,,, kita mau kemana?”
“aku ikut,,, terserah kau”
“kamu suka apa senja?”
“ segala hal tentang arkeologi ”
“ wah,,, berarti kamu datang pada kota yang tepat.”
“ ya saya paham,,,”
“ tapi besok aja ya?!... kamu pasti lelah dari perjalanan panjang selama 9 jam”
“ di kreta aku tidur ko ndra,,, lagi pula aku tidak punya waktu lama. Besok juga pulang”
“ wow!!!,,, super sekali dari perjalanan panjang hanya demi waktu yang sebentar”
( Laju santai mengiringi perjalanan mereka. bercerita panjang andra pada senja terhadap tempat- tempat bersejarah yang mereka lallui.  
Tak ada balas cakap dari sang empuan yang duduk di belakangnya. Entah sibuk dalam pengamatan ataupun sengaja  mendiamkan diri dari sebuah keterangan andra,,,
Yang terllihat, senja tak luput dari pandang bidang datar pundak pengendara motor yang di depannya. )
 “di kota ini bukan kah ada menara nol kilometer ndra?”
“iya,,, kamu sudah pernah ke sana senja?...”
“aku ingin kesana ndra,,,”
“tapi jauh senja,,, kita akan memakan waktu dua jam dari sini. Aku takut kamu terlallu lelah dan nantinya jatuh sakit”
“ayo lah ndra,,,, bawa saya  ke sana. ”
“OK…. Kamu memang keras kepala.”
“seandainya  tidak keras kepala, saya  tidak akan menemui kau di sini….”
“maksud mu?”
“tidak ada,,, dan tak usah kau pedulikan.”
“ya,,, sudahlah”
(andra melaju dengan setelan gas kencang,,,,)
“ kita sampai senja,,,”
“ iya ,,,, ayo naik ke puncak menara”
“kamu serius?...”
“ saya punya wajah memang terlihat bercanda?!,,, tapi  terserah kalau kau mau di sini”
“tapi  itu tingginya 225.000 M senja… dan hanya ada tangga di dalamnya !!!....”
(senja berjalan santai meninggalkan andra. Serta dengan berat hati andra pun menyusulnya,,, tangga demi tangga terlewati, cukup lama mereka mulai mendapati puncak menara. Wajah senja datar, tidak menggurat lelah atau pun keluh dari tangga yang ia tapaki. sedangkan andra mulai duduk di tengah bersender daun pintu ujung menara berligkar pagar tumpukan batu. Usai dari nafas panjangnya andra mulai bercecar kembali menceritakan segala hal tentang pengetahuannya pada menara itu)
“kau tau senja?! Menara ini di buat ol….”
“oleh ratu semar ayu bukan?”
(senja memotong kata andra)
“ratu yang di angkat tanpa kepemilikan nasab dari sang raja juga tanpa kerajaan. Menara ini pun juga di buat oleh sumbangsih tenaga penduduk sekitar  dari tumpukan batu dan perekat putih telur,  ketika sang ratu mengatakan sebuah harapan pada murni perempuan yang ada selallu di sampingnya. Murni pun memberitakan dari mulut ke mulut. Serta timbullah sebuah inisiatif dari bannyaknya orang untuk perwujudan menara ini. Ratu semar ayu memiliki keuletan tanpa pamrih untuk saling menolong, tak pernah peduli bagaimana laparnya atau pun tak kecukupan sandangnya. Pun juga tujuan sang ratu pada bidang menjulang tinggi tempat ini, ia hanya ingin melihat atap-atap rumah di sekelilingnya. karena jika tidak ada jerit yang terbawa angin. Ia mulai bisa tertidur pulas untuk waktu istirahatanya. Serta kebijakasanaan semar ayu membuatnya  di angkat menjadi pemimpin tanpa kesepakatan atau pun juga pengakuan tertulis dan ungkapan. Namun ketika daerah ini mulai di kuasai oleh raja cendana peteng,,, menara ini pun di klaim olehnya yang di abadikan pada tulisan arjo pujangga. Akhirnya  ratu semar ayu,,, hanya menjadi babad peteng dongeng orang tua untuk menina bobokan anak-anak,,, tapi aku sangat percaya keberadaan ratu semar ayu…”
“ kenapa?!”
“coba sini kau pegang batu ini….”
“bukan yang ada di tangan ku andra,,,,”
“tapi lihat kebawah kaki ku, tepat yang ada di kelingking jari ujung kaki”
“apa ini?... ukiran?,,, loh??!!!... sebuah perkampungan, tapi kecil sekali? Dan kita tidak bisa melihat dengan mata tanpa meraba,,”
“ya,,, itu ukiran ratu semar ayu pada pengamatannya di sini, bukan hanya di bagian ini. Tapi melingkari menara. Hal ini berbeda dengan apa yang di tuliskan oleh arjo pujangga. Ia mengatakan bahwa raja cendana peteng bertujuan mengatur strategi perang dengan tempat tidak terjangkau di sini. Serta membuat pengamanan di tengah kota kerajaannya, maka terbentuklah nol kilometer ini. Yang berarti awal kilo dari berbagai arah dengan jarak yang sama.”
“ tapi bagaimana kalo memang raja cendana peteng membuat ukiran ini?”
“ perbuatan seorang raja untuk sejarah tidak akan luput dari abdi tulisnya ndra, lagi pula ukiran itu jelas sekali goresan seorang perempuan.”
“wow!!!... tau banyak hal rupanya kamu tentang tempat ini.”
“saya selallu suka bepergian ke setiap tempat ndra,,, terutama mengunjungi situs sejarahnya. (senja tersenyum sinis) karena memang… saya selallu ragu dengan sejarah tertulis. Masih banyak yang menitipkan ke AKU an nya di sana.”
“ dan kali ini tujuan mu ke sini adalah menara ini? …”
“saya sudah pernah ke sini sebelumnya dua tahun lallu.”
“lantas dengan tujuan apa ke sini?!”
“harus  saya menjawabnya?”
“tidak…  kalau kamu keberatan!!...”(andra tersenyum mengejek)
“saya Cuma butuh kesepakatan ndra…”
“tentang hal apa?”
“kamu yakin menanyakan itu?....” (senja menatap tajam ke arah andra)
***
Aku tau senja,,,
Tanya mu pada menara itu tak ada keraguan. Tatap mu menajamkan ketekadan dari ketentuan hati,,, dan seperti kata al hallaj pula “tak ada yang salah dalam cinta”.
Namun aku sadari kita di peretmukan dalam waktu yang kurang tepat bukan?!. Karena ku lihat tidak kudapati kamu dalam kesendirian, pun juga diriku yang sudah memiliki seseorang. Lallu kita harus bagaimana?... haruskah mengegoiskan cinta tuk menuju kasih seutuhnya?... namun ada di sisi kita yang harus tersakiti.
Merancang hidup memanglah tidak mudah senja…
Harus ada lirik – lirik yang kita korbankan demi penghidupan lainnya juga. Bukankah bisa di katakan manusia ketika kita mampu menolong lainnya meski harus berkorban?... atau memang sisi kemanusiaan ku yang salah…?!
Entahlah senja…
Kamu memberikan pilihan dalam kerumitan pada ketentuaannya,,,,
Senja….
Negoisasi kesepakatan mu menuntutku dari ketentuan yang tak bisa ku aliri arahnya. Jika seandainya bisa ku minta. Biarlah segala menjadi keberadaannya. Kalau pun alam mengamini   sesuai keinginan,,, maka biar ku tutup kehidupan  ku seperti nama mu.  “senja” Menjemput pulas,,,, tidak lagi menyibukan diri dari ambisi siang.
Andai alam memang merestui senja….
Harapan ku utuh dalam doa di luar kekuasaan…
***
“ kita dalam kondisi yang sama bukan?... bagaimana bisa kamu meminta kesepakatan ku di atas jalinan lainnya?”
“tidak dengan saya ndra. Segalanya  tidak sulit…”
“ kamu tega menyakiti pasangannmu.”
(senja tersenyum halus. Seringai manis itu menjawab tanpa suara.)
“dia mencandui ku,,, bagaimana bisa aku melepaskan dengan banyak hal yang ia beri.”
“ saya mengerti,,, berarti ini pula kesepakatan kita bukan?”
“ tidak senja,,,, aku pun menyambut rasa mu.”
“kau punya hubungan dengannya berbeda dengan saya ndra. Demi memuaskan ambisi tentang segala pengetahuan tentang arkeologi, saya sengaja menjalin hubungan yang di mintanya.  Nabil adalah seorang pekerja di departemen kebudayaan. Serta karena dia bisa mengakses seluruh informasi  situs sejarah. Saya pun meng iya kan status pacaran dengannya.”
“kenapa harus berpacaran?”
“kamu kira ada jalinan persekawanan antara laki-laki dengan perempuan pada kemurniannya?!... kecuali hubungan  social logis mungkin. Itu pun juga 1 banding 10 ndra,,, di luar ketertarikan masing-masing keduanya. Itu pula kenapa harus di iya kan agar saya lebih mudah memintanya memberikan informasi. hal yang kecil kemungkinannya bukan?! Seseorang menolak suatu permintaan kekasihnya. Lagi pula aku dan nabil sekarang sudah selesai.”
“puan yang cerdas… serta kepintaran mu pula bukan?!  yang memintaku menjadi pendamping mu?”
(senja terdiam pada renungnnya,,, tak ada jawab dari lentik bibir itu. Cukup trawang angan melambung di kerlip bintang lampu penduduk sekitar menara)
“tidak ada ketertarikan apa-pun dari saya untuk mu. Tidak  pula ada  harapan agar  kau mencukupinnya dari segala  hal,,, ini sudah wilayah rasa dalam penguasaannya ndra. Bagaimana logika akan memilah pada penlaran di luarnya.”
“kamu ingin aku meninggalkannya senja?”
“tidak,,, aku seorang puan ndra, mana bisa aku membangun altar kebahagiaan ku di atas penderitaan perempuan lainnya”.
“lallu aku harus bagaimana?”
“saya terlallu tergesa mungkin ndra…. Di hadapkan pertanyaanmu pun saya masih belum menyiapkan jawabannya.”
(wajah senja mulai datar… tenang kini ia dari gejolaknnya rasa mengaharapkan sang  empunya. Namun andra selallu paham bagaimana menguasai perbincangan)
“malayunesia Negara kita ini memang masih banyak menyimpan rahasia di dalam bangunannya bukan senja? Itu pun bisa memahamkan kita regenerasinya bagaimana majunya peradaban masa lampau.”
“benar ndra,,, tapai sayangnya manuskrip yang tersedia sudahlah bukan senyatanya. Aku juga suka kota nuansa ini… di tengah moderenisasi global tempat ini masih memegang budayanya… padahal nuansa sudah termasuk kota sejahtera”.
“mari pulang senja,,, sudah jam tiga pagi, kamu harus istirahat kan”
“pulang kemana?”
“ke kost ku saja nggak apa-pa kan?”
“hah? Kita hanya berdua? ”
(mata senja mendelik… lallu berfikir sejenak)
“kamu masih percaya saya laki-laki baik bukan?”
(andra tesenyum sambil meyakinkan)
“mmmm,,, tidak yakin si sebenarnya (senja tersenyum mengejek) tapi ayolah…. Badan saya juga sudah terasa sakit semua”
***
Lihatlah dirimu sekarang senja,,, dalam tidur rona ayumu pun memancar dalam sendirinya,,,
Mimpi mana yang harus kita lelapkan?!... atau biarkan angan terpendar dalam layaknya cahaya?!... cukup berjarak 2 meter ruang kamar tanpa batas ini, biarkan aku memuaskan pandang dari jarak kerinduannya tanpa harus ku ungkapkan pun juga menyentuhmu senja…
***Laju kreta…
Pagi mulai menyinari, menleusup lorong-lorong  yang tak mampu kita lallui. Mungkin di bagian sisi beberapa orang merentangkan tangan dalam sambut sang mentari…
Tapi tidak di bagian diriku, masih teraba kelam didalam terang. Bernuansa gelap pada hingar menuju siang,,,
Namun  kucukupkan segala risau dengan bilasan air pada wajah tertutup doa.
Ndra,,, hari ku tanggalkan kota nuansa setelah ku puaskan sambut dari tatap yang haus akan  pemiliknya. Walau kaki ini melangkah tapi rasaku tak tanggal meninggalkan singgasananya. Meski akhirnya ku tau dari segala jawab mu, yang kupunya tak tersambut sebagaimana ombak menepi pesisir.
Beberapa pecinta memilih kata sakit ketika menemui kejadian seperti ini, tapi tidak dengan ku ndra…
Kau bercecar tentang bagaimana harus mengatur rasa pada ketentuan bahkan meminjam kata aempati budaya kemanusiaan. Tapi kau tak pernah tau bukan ndra?! Bahwa dalam rasa tak mengenal kata aturan…
Mau dimana pun  kamu menempatkannnya pada  kehidupan bukanlah alat ukur…
*** senja mematahkan nomer kartu ponselnnya, mengibur diri pada pepohonan yang di lallui***